Makna Dalam Tahiyat
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
Artinya: "Segala kehormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan adalah milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya dilimpahkan kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.
Dengan melihat arti tahiyyat diatas, kita bisa mengerti bahwa ada 4 perkara yaitu ; kehormatan, keberkahan, rahmat dan kebaikan, semuanya adalah milik Allah. Hamba-hamba Allah yang ingin menjadi hamba yang saleh - karena hanya yang saleh saja yang mendapatkan doa dari orang yang mengerjakan setiap ibadah shalat - berharap 4 perkara milik Allah itu dapat diraih dan senantiasa bersamanya.
Bagaimana agar 4 perkara tersebut bisa dimiliki oleh kita? Tentu jawabannya harus dicari dan diupayakan dengan sungguh-sungguh sebab tidak mungkin perkara tersebut datang atau muncul dengan sendirinya pada kita.
Bila memperhatikan urutan lafadz dalam tahiyat, kiranya dapat dipelajari kalau kehormatan itu bisa dimiliki yaitu oleh orang orang yang hidupnya beroleh keberkahan lalu yang akan mendapatkan keberkahan itu adalah orang orang yang selalu bersholawat (memohon rahmat atau memohonkan rahmat untuk Nabi saw) dan kemudian yang rajin berdoa atau bersholawat hanyalah orang orang yang berbuat baik. Dengan demikian dapatlah dimaknai dengan mengartikannya dimulai dari At thayyibat dulu terus as shalawat lalu al mubarokah kemudian at tahiyyat. Jadi untuk berada dalam kehormatan atau status terhormat, seseorang haruslah hidup dalam keberkahan (hidup dalam kemudahan menjalankan ibadah) sedang orang yang hidupnya penuh dalam keberkahan hanyalah orang yang senantiasa bersholawat dan berprilaku dengan prilaku yang baik.
Bermula dari at Thayyibah seseorang beranjak kepada posisi al barokah dan at tahiyyat , jadi bila seseorang sudah at Thoyyibah maka harapan besar orang itu akan mendapatkan status al barokah dan at tahiyat. Tidak salah juga kalau kita menyebutkan orang yang baik adalah orang yang sungguh-sungguh mengerjakan sholat, senantiasa bershalawat dan melakukan silaturahmi. sholat, shalawat dan silah.
Dalam sebuah Hadits disebutkan at Thoyyibah itu adalah salah satu nama bagi Madinah. Bila direnungi, kaum Muslimin yang berprilaku baik akan tinggal atau kecondongannya berada di madinah (tempat dimana hukum ditegakkan dengan adil), Ia tak akan nyaman menetap diluar madinah. Dengan kebaikannya, jiwanya menolak dan raganya berontak akan berusaha keluar mencari dan berjuang menuju Madinah. Penamaan Madinah oleh Rasulullah dengan sebutan thabah pasti berkaitan erat dengan thayyib kebaikan dan kebahagiaan (lafadz thabah dan thayyibah adalah dua kata yang memiliki kesamaan arti menurut Ibnu Hajar Al Asqalani).Bila arti thayyib seperti itu dan dibawa dalam diskusi politik, maka negara yang di dalamnya ada berbagai kebaikan dan kebahagiaan dapat dikatakan sebagai negara merdeka, atau bisa juga disebut negara ideal. Makna ini bisa dirujuk kepada negeri Saba setelah ratunya tunduk menerima Islam yang didakwahkan Rasulullah Sulaiman, maka negerinya disebut dengan Baldah Thayyibah sebagaimana terlihat dalam QS. Saba' 34: Ayat 15
"Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun."
Kecuali kemusyrikan, Baldah Thayyibah ini sebelumnya sudah memiliki sumber daya alam dan manusia begitu lengkap dan hebat untuk disebut dengan negara merdeka dan makmur sebagaimana dapat dirujuk Qs. al-Naml ayat 23
"Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar." WA allahu alam []





0 Response to "Makna Dalam Tahiyat"
Posting Komentar